FENOMENA ANAK JALANAN

Anak Jalanan mempunyai kategori masing-masing yang mana oleh beberapa pihak yang terkait dalam hal, ini baik LSM-LSM, Lembaga-Lemaga Sosial non Pemerintah dan Pemerintah itu sendiri, secara sepakat membagi mereka dalam empat kategori, yaitu:
1. Anak jalanan yang masih memiliki orang tua dan tinggal dengan orang tua.
2. Anak jalanan yang masih memiliki orang tua tapi tidak tinggal dengan orang tua.
3. Anak jalanan yang sudah tidak memiliki orang tua tapi tinggal dengan keluarga.
4. Anak jalanan yang sudah tidak memiliki orang tua dan tidak tinggal dengan keluarga.
Kategori-kategori ini sudah melewati tahapan-tahapan penelitian sekian tahun lamanya di Indonesia dan bagi pihak-pihak yang terkait yang sudah disebutkan diatas, berdasarkan Kategori ini maka tindakan “penyelamatan” bisa berjalan lebih tersistem.

Fenomena mengenai Anak Jalanan sebenarnya sudah lama terjadi di kota-kota (besar) di Indonesia termasuk di dalamnya Kota Semarang, dari sejak jaman Orde Baru. Tapi fenomena ini menjadi semakin menyeruak kepermukaan ketika Indonesia mengalami Krisis Moneter di era ’90 an akhir dimasa-masa berakhirnya sistem Orde Baru di Republik ini. Sehingga, jumlah anak jalanan Indonesia pada tahun 1997 yang masih sekitar 36.000 anak, pada tahun 2000an, tepatnya 2010 jumlah anak jalanan melonjak drastis menjadi sekitar 232.894 anak. Hal ini menurut data dari situs resmi KEMENSOS (http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=16).
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Sosial waktu itu di era masa ke Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudowono pada tahun 2014, Salim Segaf Al-Jufri yang menyatakan bahwa pada 2014 (saat masa berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu II), jumlah anak jalanan secara nasional adalah berjumlah 230.000 anak.
(https://austinsfoundation.wordpress.com/2013/02/24/data-jumlah-anak-jalanan-di-indonesia/)

Di kota Semarang seperti yang dikatakan LSM Setara, LSM yang telah lama melakukan pendampingan kepada anak jalanan semenjak tahun ‘90an, dalam situs resmi mereka, bahwa Kanwil Departemen Sosial Jawa Tengah pada 1999 mencatat ada sekitar 1.500 anjal di Semarang. Dan tahun 2007, Yayasan Setara mencatat selama tiga tahun terakhir ini di Kota Semarang terdapat 416 anak jalanan.

Sumber lain memperkirakan sekitar 2.000 anak jalanan (Tabloid Manunggal, edisi V/Thn XVII/April-Mei 1998). Sebelum krisis terjadi (1997), Persatuan Anak Jalanan Semarang (PAJS) memperkirakan ada 700 teman sebayanya di jalanan Kota Lumpia ini. Dengan demikian, terjadi peningkatan jumlah hampir 200 persen.

Sedangkan Data dari Yayasan Emas Indonesia, suatu lembaga Sosial yang menjadi Partner Pemerintah Semarang dalam melakukan Pengentasan Anak jalanan Semarang, berdasarkan survei yang dilakukan mereka, pada tahun 2014 jumlah anak jalanan Semarang 423 anak. Dan masih menurut Yayasan Emas Indonesia, pada tahun 2016 jumlah anak jalanan Semarang masih pada kisaran angka yang kurang lebih sama.

DATA ANAK JALANAN YANG BERBEDA-BEDA

Data mengenai anak jalanan yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa anak jalanan Indonesia berjumlah 154.861 jiwa pada tahun 2008. Menurut perhitungan Komisi Nasional Perlindungan Anak angka anak jalanan mencapai 8.000 jiwa. Adapun perkiraan lainnya menyebutkan jumlah anak jalanan mencapai kurang lebih 12.000 jiwa.
Lain lagi apa yang dikatakan Menteri Sosial saat ini, seperti yang dilansir media Tribun, wartakota beberapa waktu lalu:
“Sekarang itu di Indonesia ada 33.400 anak jalanan, dan yang terbanyak ada di Jakarta sekitar 7.600 anak. Sementara, di Jawa Barat dan Jawa Tengah sekitar lima ribu. Jadi ini perlu perhatian,” kata Khofifah saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (27/11/2016). Dari banyak situs-situs yang bertebaran di dunia Online, kita mendapati perkiraan anak jalanan secara Nasional oleh banyak Lembaga Sosial dan Pemerintah yang berbeda-beda.

Dari sini kita melihat data-data yang ada di Indonesia tidaklah sama. Hal ini bukan hanya terjadi secara Nasional, tapi juga di tingkat daerah-daerah, termasuk Kota Semarang juga. Mengapa?
Perkiraan menurut data-data yang berbeda-beda ini disebabkan anak jalanan tidak bisa menetap disatu lokasi saja. Mereka akan sering berpindah-pindah lokasi tempat sesuai kebutuhannya. Selain itu terjadi juga fenomena anak jalanan kambuhan yang mana biasanya pada hari-hari besar, mereka baru akan turun ke jalanan.

RESIKO ANAK JALANAN

Menjadi anak jalanan bukannya tidak beresiko. Justru sangat besar potensi anak jalanan dalam kaitannya dengan resiko negatif yang diterimanya di jalanan. Berdasarkan keterangan dari Yayasan Emas Indonesia Semarang yang membina anak jalanan secara aktif dari tahun 2001 sampai saat ini, resiko yang akan diterima anak-anak itu selain waktu dan kesempatan pendidikan yang terhilang, ini sangat jelas, resiko-resiko lainnya adalah mereka rata-rata menjadi pencandu obat-obatan, mengalami tindak kekerasan oleh anak jalanan yang lebih senior, menjadi korban penjualan anak dibawah umur, berpotensi menjadi pelaku kriminal dan yang paling menyedihkan adalah mereka pada umumnya mengalami kekerasan secara seksual.

Membiarkan mereka masih dijalanan berarti memberikan kesempatan agar anak-anak ini menjadi korban dari kondisi-kondisi yang disebutkan diatas. Bila ini terus terjadi, maka anak-anak ini tidak tidak akan mendapatkan hak-hak mereka sebagai anak bangsa sesuai yang diatur oleh Undang-Undang no 23, Tentang Perlindungan Anak.

Dan bila ditinjau dari sudut Alkitab, membiarkan korban-korban seperti itu, itu sama artinya dengan tidak mengasihi sesama seperti yang di ilustrasikan oleh Tuhan Yesus dalam perumpaan orang Samaria yang murah hati.

Berikan Komentar !